Find Me !

twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail

Pages

Saturday, October 11, 2014

PKM-GT : “UTTMS (UNDERGROUND TRASH TUNNEL MANAGEMENT SYSTEM) , KONSEP MANEJEMEN SAMPAH BAWAH TANAH SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN KESEHATAN TENAGA KERJA, PERBAIKAN LINGKUNGAN, SERTA ALTERNATIF PENGELOLAAN SAMPAH DI INDONESIA”

RINGKASAN
Permasalahan terkait sampah sudah menjadi permasalahan yang tak kunjung usai. Banyak sekali dampak negatif yang ditimbulkan dari keberadaan sampah, mulai dari pengumpulan sampah yang ada di masyarakat, sampai pengangkutan oleh petugas kebersihan. Selain tidak enak dipandang dan baunya yang tidak sedap, sampah yang menumpuk akan menjadi tempat berkembangnya berbagai mikroorganisme yang dapat membahayakan kesehatan masyarakat, terutama petugas kebersihan. Permasalahan pada sistem pengangkutan sampah mulai dari Tempat Pembuangan Sementara (TPS) ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) juga masih memiliki banyak kekurangan, mulai dari penempatan TPS yang sembarangan hingga kemudian pada rute perjalanan truk pengangkut sampah. Selain membuat tidak nyaman dan sehat untuk wilayah sekitar TPS dan rute perjalanan truk pengangkut sampah, bercecernya sampah yang jatuh dari truk pengangkut sepanjang rute perjalanan menuju TPA juga menjadi permasalahan. Oleh karena itu konsep UTTMS (Underground Trash Tunnel Management System) lahir sebagai solusi terkait pemecahan masalah ini.
UTTMS merupakan sistem manejemen serta pengiriman sampah melalui terowongan bawah tanah. Dalam hal ini, UTTMS dibedakan menjadi dua tipe, yakni tipe half conveyor dan full conveyor first carrier. Adanya dua tipe yang berbeda bertujuan agar dapat diaplikasikan secara bertahap. Dengan memanfaatkan perjalanan sampah sebagai waktu pengolahan sampah, UTTMS mampu mengolah sampah lebih cepat serta efisien dengan pengkatagorian sampah yang lebih spesifik sebelum pada akhirnya diproses di TPA. Pengangkutan sampah pada UTTMS akan memanfaatkan mekanikal otomatis, dan dalam konsep ini mesin yang dimaksud adalah conveyor serta kereta khusus.
Guna mewujudkan konsep ini di Indonesia, diperlukan konsep yang matang dan sempurna. UTTMS tergolong proyek yang besar, maka diperlukan kerja sama yang baik antara pemerintah, dinas kebersihan, serta developer yang terkait. Kerja sama yang baik akan melahirkan konsep yang sempurna sehingga untuk kedepannya UTTMS dapat diaplikasikan di Indonesia

1
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sampah merupakan sesuatu yang pasti dihasilkan oleh manusia. Dewasa ini, sudah tercipta sebuah sistem maupun teknologi guna mengangkut, menampung, hingga mengolah sampah di Indonesia. Seperti pengumpulan sampah di setiap tempat menuju TPS (Tempat Pembuangan Sementara) terdekat, lalu diangkut menggunakan truk sampah menuju TPA (Tempat Pembuangan Akhir) untuk selanjutnya diproses atau diolah kembali.
Yang perlu menjadi perhatian adalah proses sebelum menuju lokasi TPA. Seperti contohnya penyimpanan sampah di tempat-tempat terbuka, lalu pengambilan serta pengangkutan sampah tersebut oleh truk sampah / petugas kebersihan mulai dari tiap rumah sampai menuju TPS, dan pada akhirnya pengangkutan terakhir menuju TPA. Selama proses tersebut tentu menimbulkan banyak sekali dampak buruk. Mulai dari tidak enak dipandang, bau tidak sedap yang menyengat, hingga tempat berkembangbiaknya mikroorganisme berbahaya bagi manusia, terutama pada saat pengangkutan. Pengangkutan sampah dengan menggunakan truk tentu bukanlah hal yang aman bagi rute yang dilewati. Tak hanya itu, sistem pengolahan sampah saat ini juga berdampak besar bagi petugas kebersihan. Pekerjaan mereka sangat rentan dengan penyakit yang membahayakan kesehatan mereka. Berkenaan dengan hal ini, penulis memunculkan sebuah gagasan solutif, yang dapat di aplikasikan di Indonesia. Sebuah konsep yang jauh lebih aman, efisien, serta meminimalisir dampak yang ditimbulkan karena kekurangan sistem yang sudah ada. Konsep ini bernama UTTMS (Underground Trash Tunnel Management System).
Konsep ini adalah konsep pendistribusian sampah lewat terowongan bawah tanah menggunakan kereta dan konveyor khusus. Konsep yang dipakai hampir sama dengan konsep kereta bawah tanah yang sudah diaplikasikan di negara-negara barat. Selain pendistribusian sampah dari TPS menuju TPA, konsep ini juga menawarkan sistem baru dalam pengolahan sampah yang dapat dilakukan selama perjalanan sampah menuju TPS ataupun TPA. Dengan adanya sistem ini diharapkan lingkungan lebih terlihat bersih, tempat sampah yang dulu bermunculan dan kotor di tempat-tempat umum akan diganti dengan ruangan khusus di bawah tanah, dan di distribusikan ke TPA untuk selanjutnya diolah.

2
1.2 Tujuan
Dengan adanya konsep ini, tujuan yang diharapkan adalah :
1.      Terciptanya sebuah sistem baru, yang lebih efisien, sehat, dan sustainable, namun tetap logis dan dapat diaplikasikan sesuai kondisi di Nusantara
2.      Membuka pemikiran baru, bahwa banyak alternatif lain yang dapat diaplikasikan di Indonesia terkait dengan permasalahan yang ada
1.3 Manfaat
Konsep ini mempunyai manfaat besar terutama dalam penyelesaian masalah yang ada di Indonesia saat ini, terutama dalam permasalahan terkait sampah. Konsep ini akan membuka gambaran terhadap potensi yang diberikan bila konsep ini mampu direalisasikan. Selain peningkatan keindahan lingkungan, teknologi, kesehatan, konsep ini juga menawarkan sebuah mekanisme pengolahan sampah yang lebih baik.
BAB II GAGASAN
2.1  Kondisi Saat Ini
Dewasa ini banyak sekali persoalan terkait sampah. Mulai dari penataan tempat sampah yang kurang baik, bau tidak sedap, penyakit, hingga menumpuknya sampah di TPA yang tak sanggup diolah sepenuhnya. Selain dampak buruk dan potensi bahaya dari sampah, sistem yang ada saat ini mempunyai titik yang riskan, terutama dalam hal distribusi sampah dari TPS menuju TPA.

3
 
   

2.2  Solusi Yang Pernah Ada
Dengan semakin meningkatnya sampah yang dihasilkan seiring waktu, tentu menjadi permasalahan baru pada sistem pengolahan sampah yang sudah ada di Indonesia. Salah satu permasalahan yang dirasakan pemerintah adalah kurangnya armada truk pengangkut sampah, namun penambahan truk sampah terhambat karena tidak disetujui DPRD. Tak hanya truk saja, upaya-upaya lain dalam pemilahan sampah sudah dilakukan. Dari menghadirkan dua jenis tempat sampah (organik dan non organik), penyebaran tempat sampah yang diperluas, sampai penambahan petugas kebersihan, serta pengelolaan sampah mandiri yang dilakukan oleh masyarakat.
Namun solusi-solusi tersebut dirasa masih kurang. Walaupun jumlah armada truk pengangkut sampah ataupun petugas kebersihan bertambah, permasalahan yang akan tetap bertahan adalah proses distribusi dan pengolahan sampah yang menggunung. Dalam proses distribusi sampah, lingkungan yang menjadi rute truk sampah tersebut akan mendapatkan dampak serta ancaman kesehatan. Dan setelah sampai di TPA, tentu akan kewalahan mengolah puluhan ton sampah yang datang secara bersama-sama dalam satu waktu. Oleh karena itu sistem yang sudah ada saat ini dirasa masih kurang efektif.



2.3 

4
Deskripsi Ide
2.3.1 Deskripsi Umum
Agar konsep ini dapat terealiasasi di Indonesia, tentu diperlukan strategi yang logis dan efisien. Untuk itu UTTMS akan dibedakan menjadi dua tipe, yakni:
a.        Sistem half conveyor first carrier
Pada sistem half conveyor first carrier ini pengolahan sampah pada sektor-sektor seperti perkantoran, rumah, dan lain sebagainya, akan diangkut oleh petugas kebersihan menuju TPS bawah tanah dengan cara memasukkan sampah kepada input sampah yang telah disediakan (lihat bagian yang berwarna biru dan oranye). Akan disediakan dua input sebagai pembagi sampah organik dan non-oraganik sehingga akan lebih mudah diolah.
Setelah pengolahan yang dilakukan oleh TPS, sampah akan diangkut menuju TPA melalui terowongan bawah tanah menggunakan kereta pengangkut sampah. Sesaat sebelum memasuki TPA, sampah akan memasuki sebuah ruangan khusus pemilah sampah logam (lihat bagian gedung TPA berwarna kuning). Pemilahan sampah logam dapat dilakukan dengan memanfaatkan magnet raksasa yang biasa digunakan oleh penghancur mobil bekas di negara barat. Hal ini dilakukan agar logam yang masih dapat dilebur akan terpisah dan selanjutnya akan dilebur agar dapat dipakai kembali.
b.     

5
Sistem full conveyor first carrier
Pada sistem full conveyor first carrier, pengiriman sampah sudah menggunakan tenaga mekanikal otomatis. Sampah-sampah dari rumah, gedung, ataupun perkantoran, akan langsung disalurkan menggunakan conveyor yang dihubungkan dengan TPS terdekat untuk dikatagorikan (lihat jalur warna ungu, kuning, dan biru). Prosesi sebelum memasuki TPA sama dengan sistem half conveyor first carrier. Sesaat sebelum memasuki TPA, sampah akan terlebih dahulu dipilah antara sampah biasa dan sampah logam menggunakan magnet raksasa.
Pada sistem full conveyor first carrier, tempat sampah pada tempat umum ataupun bangunan akan terhubung dengan TPS menggunakan conveyor khusus. Dengan digantinya jenis tempat sampah ini tentu dampak yang terasa adalah lingkungan terasa lebih bersih dan tak ada sampah yang menumpuk di permukaan.


Sampah akan diproses semasa perjalanan menuju TPA. Pembedaan pengolahan sampah dapat dikatagorikan menjadi 2 jenis, yaitu sampah organik dan non-organik, sementara sampah logam akan masuk ke kategori non-organik. Kedua jenis sampah ini akan dipisah semenjak proses awal sampah masuk ke TPS. Dengan metode ini diharapkan pengolahan sampah tidak lagi tertumpuk saat di TPA yang menyebabkan menggunungnya sampah-sampah.
Pada TPS bawah tanah, sampah akan dipilah ke gerbong kereta organik serta non-organik. Lalu akan dibawa ke pengolahan selanjutnya dengan menggunakan kereta khusus yang mampu menarik sampah-sampah tersebut.
Pada saat tiba di tempat pemilahan sampah logam, gerbong akan dipisahkan dengan rel masing-masing. Untuk gerbong sampah organik, akan diolah menjadi pupuk atau bahan olahan lain, sementara gerbong sampah non-organik akan dibawa menuju conveyor pemilah. Conveyor akan bergerak membawa sampah tersebut, dan magnet raksasa akan menyala diatas sampah tersebut, sehingga sampah-sampah logam akan tertarik ke magnet tersebut.
Selain menawarkan kebersihan lingkungan serta metode baru pada sistem pengolahan sampah di Indonesia, konsep ini juga ditujukan untuk menjaga kesehatan pekerja kebersihan untuk dimasa mendatang.
2.4  Pihak Pendukung
Dalam hal ini, pihak yang dirasa paling besar peranannya adalah pemerintah, dinas kebersihan, dan juga developer. Namun peranan stakeholders tersebut saling terkoordinasi sehingga membentuk sistem yang baik.
Pemerintah memegang peran penting sebagai pendukung diaplikasikannya konsep ini. Selain sebagai penyedia anggaran, pemerintah memegang peran penting dalam penyempurnaan konsep ini. Bagian pemerintah yang paling cocok terkait hal ini adalah kementerian riset dan teknologi. Kementerian tersebut akan bekerjasama dengan para ahli untuk menyempurnakan konsep ini agar mampu diaplikasikan sesuai keadaan alam di Indonesia.

8
Pemegang peran terpenting kedua adalah dinas kebersihan. Dinas kebersihan bertanggung jawab untuk memantau laju distribusi dan dinamika pengolahan sampah. Namun kali ini dinas kebersihan harus menyediakan tim khusus sebagai teknisi terkait dengan mekanikal yang terinstalasi dikonsep ini, serta tenaga ahli dalam bidang teknologi serta inspeksi metode pengolahan sampah dalam konsep ini.
Peranan penting yang terakhir adalah peranan developer. Developer yang dimaksud disini ada dua, yakni developer UTTMS dan developer bangunan. Developer UTTMS berfungsi sebagai produsen mesin yang dimaksud, sementara developer bangunan adalah pihak yang memesan. Seperti contohnya developer perumahan. Tentu dengan mengaplikasikan UTTMS di perumahannya akan sangat mendukung keberhasilan konsep ini selain pemasangan di fasilitas-fasilitas umum lainnya.
2.5  Langkah Strategis
Guna mendukung direalisasikannya konsep ini, telah disiapkan strategi khusus dalam penerapan konsep ini di dunia nyata.

9
Sebelum dapat menginstruksikan pemasangan UTTMS, tentu dibutuhkan konsep yang sempurna serta detail yang terperinci. Disinilah kementrian riset dan teknologi mampu mengambil alih. Para ahli dibutuhkan untuk menciptakan UTTMS yang sempurna dan sesuai dengan kondisi alam Indonesia. Selanjutnya, pemerintah dapat menginstruksikan kepada developer bangunan untuk menginstalasi UTTMS bertipe half conveyor first carrier, mengingat dana yang dibutuhkan tidak sebesar full conveyor first carrier. Tentu ada keuntungan tersendiri bagi developer. Bagi developer, menggunakan teknologi terbaru diperumahan yang dia bangun tentu akan menambah brand serta daya jual rumahnya sebagai salah satu perumahan berteknologi. Setelah terbukti berhasil, UTTMS dapat ditingkatkan ke tipe full conveyor first carrier agar manfaat dapat diraih sepenuhnya.
Instruksi akan berlanjut kepada dinas kebersihan. Sebagai pengurus kebersihan, dinas kebersihan tentu secara tak langsung menjadi koordinator lapangan. Mereka juga bertanggung jawab atas teknologi ini yang terinstalasi difasilitas umum, seperti contohnya taman kota, monumen nasional, dsb. Terlebih lagi adalah memantau perjalanan serta pengolahan sampah sampai menuju TPA. Tentu pembelajaran lebih lanjut terkait teknologi ini diperlukan. Pembelajaran dapat dilakukan melalui tim riset dari kementrian riset dan teknologi, dan juga melalui developer UTTMS langsung. Dengan demikian, pemeliharaan UTTMS akan lebih optimal.

BAB III KESIMPULAN
UTTMS (Underground Trash Tunnel Management System), merupakan sistem manejemen serta pengiriman sampah melalui terowongan bawah tanah sebagai solusi sekaligus terobosan bagi sistem pengolahan sampah di Indonesia yang masih memiliki kekurangan. Masyarakat masih merasakan dampak langsung dari keberadaan sampah, hingga saat pendistribusian sampah, terutama bagi pekerja kebersihan. Dengan memanfaatkan prosesi sebelum menuju TPA (Tempat Pembuangan Akhir) sebagai waktu pengolahan sampah, serta pengkatagorian sampah yang lebih spesifik dan otomatis, tentu akan memudahkan pengolahan sampah di Indonesia. Guna meralisasikan UTTMS di kehidupan nyata, dibutuhkan alternatif yang logis dan efisien serta rencana strategis yang solid dan sesuai keadaan. Guna mewujudkan konsep ini, ada tiga stakeholders yang berperan penting dalam konsep UTTMS, yakni Pemerintah, Dinas Kebersihan, serta Developer. Bila kerja sama yang baik antara ketiga pihak tersebut terjalin, maka konsep akan terlahir lebih sempurna dan dapat direalisasikan pada keadaan Indonesia di kemudian hari, sehingga akan tercapai lingkungan Indonesia yang bersih dengan masyarakat yang sehat dari bahaya sampah.

10
DAFTAR PUSTAKA
·         Andi Mutya Keteng (2014). Anggaran Beli Truk Sampah Ditolak DPRD. From http://news.liputan6.com/read/815106/anggaran-beli-truk-sampah-ditolak-dprd-jokowi-ya-sudah, 31 january 2014

·         Palu (2014). Volume sampah terus meningkat. From http://www.radarsulteng.co.id/index.php/berita/detail/Rubrik/46/14754, 1 february 2014

·         AyundaW. Savitri (2014). DPRD Tolak 200 Truk Sampah Baru. From http://news.detik.com/read/2014/01/31/185125/2484115/10/dprd-tolak-200-truk-sampah-baru-jokowi-ya-mau-gimana-lagi, 31 january 2014

·         padang, haluan (2014). DKP Tambah 50 kontainer sampah. from http://www.harianhaluan.com/index.php/berita/haluan-padang/28921-dkp-tambah-50-kontainer-sampah, 09 january 2014

·         Asrul (2012). Jakarta harus bebas sampah. 2 !. From http://m.kompasiana.com/post/read/496247/3, dok 2012

·         Asrul (2012). Jakarta harus bebas sampah. 1 !. From http://m.kompasiana.com/post/read/496245/3, dok 2012


·         sak (2013). Truk Sampah Segera Diremajakan. from http://ahok.org/berita/news/truk-sampah-segera-diremajakan/, 26 may 2013

0 comments:

Post a Comment